Belajar dari Hamamatsu: Ketika Kepemimpinan, Sains, dan Tata Kelola Menyelamatkan Air
Hamamatsu, Jepang — Bagaimana sebuah kota mampu menjaga tingkat kehilangan air (Non-Revenue Water/NRW) di bawah 10%, sementara banyak kota di dunia masih menghadapi kehilangan air dalam jumlah yang jauh lebih besar? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam kunjungan akademik Prof. Reini D. Wirahadikusumah, Dr. Hadi Kardhana, dan tim Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) Institut Teknologi Bandung ke Kota Hamamatsu, Jepang.
Kunjungan tersebut mendapatkan sambutan langsung dari Pemerintah Kota Hamamatsu dan bahkan menjadi perhatian media lokal Jepang. Pertemuan ini menjadi kesempatan penting untuk mempelajari praktik terbaik dalam pengelolaan sistem penyediaan air minum yang telah berhasil diterapkan secara konsisten selama bertahun-tahun.

Di Indonesia, tingkat Non-Revenue Water (NRW) masih berkisar antara 30–40 persen. NRW merupakan air yang telah diproduksi namun tidak menghasilkan pendapatan akibat berbagai faktor, seperti kebocoran jaringan distribusi, ketidakakuratan pencatatan meter, kehilangan komersial, maupun penggunaan air yang tidak tercatat. Kondisi ini menyebabkan hilangnya potensi pelayanan kepada masyarakat sekaligus kerugian ekonomi yang mencapai nilai sangat besar setiap tahunnya.
Dari pengalaman Hamamatsu, terdapat pemahaman penting bahwa keberhasilan menekan tingkat kehilangan air tidak hanya ditentukan oleh penerapan teknologi modern. Keberhasilan tersebut dibangun melalui kombinasi tata kelola yang kuat, sistem pembiayaan yang berkelanjutan, serta digitalisasi layanan air minum yang dilakukan secara konsisten dan berjangka panjang.

Penerimaan resmi oleh Walikota Hamamatsu juga menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya air merupakan agenda strategis yang mendapat perhatian langsung dari pimpinan daerah. Pendekatan berbasis data, dukungan terhadap ilmu pengetahuan, serta komitmen jangka panjang menjadi faktor penting yang memungkinkan berbagai kebijakan dan investasi dapat berjalan secara efektif.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Hamamatsu memiliki relevansi yang sangat besar. Setiap satu persen NRW yang berhasil dikurangi berarti peningkatan efisiensi layanan, penghematan biaya operasional, dan bertambahnya jumlah masyarakat yang dapat memperoleh akses air bersih tanpa perlu membangun sumber air baru.

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya FTSL ITB dalam memperkuat kolaborasi internasional sekaligus membawa praktik-praktik terbaik dunia ke dalam pengembangan kebijakan, penelitian, dan implementasi pengelolaan infrastruktur air di Indonesia. Melalui sinergi antara kepemimpinan, sains, dan tata kelola yang baik, pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.