Harjuna "Berotot" dalam Bentuk Jembatan

TEMPO.CO, Jakarta – Secarik poster Brigde Design Competition 2016 kiriman Nanyang Technological University of Singapore membetot perhatian Windya Wijaya, 21 tahun. Mahasiswi tingkat III Program Studi Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung ini merasa tertantang. Ia lantas mengajak Daniel Christanto, rekan seangkatannya, membentuk tim.

“Kami belum mempelajari matakuliah desain jembata,apalagi materialnya : kayu,” ucap ,” Daniel, dua pekan lalu. Lomba bertaraf internasional bertema .”Sustainable ,Bridge Design” ini digelar pada 19-20 Maret lalu. Ada dua kategori lomba, yakni :kategori universitas yang diikuti 42 tim peserta dan politeknik dengan 26 tim.

Menurut Kevin Janiardy, ketua panitia lomba sekaIigus mahasiswa School of civil and Environmental Engineering (CEE) NTU, ada tiga aspek penilaian,yakni konsep desain, estetika, dan uji beban. “Para peserta harus membuat rancangan jembatan yang mampu menahan beban paling berat dengan konstruksi jembatan ringan” ujarnya melalui surat elektronik kepada Tempo, dua pekan lalu.

Daniel dan Windya memilih nama Harjuna Bridge sebagai nama tim yang juga dipakai sebagai judul karya desain struktur jembatan mereka, “Harjuna dari bahasa Sanskerta artinya putih, berkilau. Kami ingin seperti itu,” kata Daniel

Tim Harjuna Bridge pun berhasil menjadi kampiun di kategori universitas. Desain jembatan berbahan kayu berbobot 24,72 gram itu mampu menahan beban logam dan pasir seberat 57,56 kilogram. Mereka mendapat. Hadiah utama Sin$ 600 serta gelar juara lomba karya favorit dengan hadiah Sin$ 50.harjuna-berotot-300x191

Di posisi kedua adalah tim CS Bridge dari UGM. Ketua tim, Raka Bagus Panuntun, seperti dikutip dari situs kampus mereka, mengatakan kekuatan jembatan mereka sampai pada beban 57,05 kilogram. UGM mengirim tiga tim mahasiswa dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan.

Windya dan Daniel menyiapkan tiga desain dan maket jembatan yang dibuat secara bertahap. “Saat itu kami merancangnya di atas kertas dan simulasi di layar komputer dengan aplikasi struktur analisis program terlebih dulu,” ucap Widya. Mereka baru merancang maket jembatan pada hari pertama. Panitia hanya memberi waktu lima jam untuk membuatnya.

Bahan utama berupa kayu balsa sepanjang 9 meter. Kayu yang kerap digunakan untuk membuat model pesawat terbang itu terbagi dalam potongan-potongan sepanjang 1 meter dengan dimensi 4 x 4 milimeter. Tim Harjuna membuat struktur jembatan yang konstruksinya mudah dibuat, tapi memiliki bentuk yang terlihat cukup estestis trapesium simetris segi lima.

Panjang jembatan Harjuna 32,5 sentimeter dengan lebar 7 sentimeter dan tinggi 11 sentimeter. Sebagai penguatan tiang miring, datar, dan tegak, mereka menempelkan struktur bracing ganda yang berpola seperti huruf “M” pada tiap sisi jembatan. Bracing itu menempel ke tiang-tiang tegak yang ditopang tiang mendatar.

Tujuannya supaya tiang-tiang tegak itu terikat dan tidak “lari” ketika ditindih beban. “Seni kekuatannya memakai satu atau dua bracing,” kata Daniel.

1specifiedDaniel dan Windya menyebar kekuatan jembatan ke penjuru ini dengan mengoptimalkan semua bagian kerangka. Dengan begitu, akan lebih maksimal menopang beban. “Dan ketika hancur karena kelebihan beban, semua konstruksi langsung roboh yang menandakan semua bagiannya bekerja pada titik maksimum,” kata Daniel.

Menurut Windya, desain struktur Harjuna lebih cocok digunakan sebagai jembatan penyangga jalan yang melintas di atasnya, misalnya untuk pemakaian akses penghubung jurang. “ Bukan untuk dilewati langsung kendaraan di lorongnya,” kata dia.

ANWAR SISWADI

Berita Terkait